Kamis, 28 Januari 2016

Saya pasti bisa

Dua tahun yang lalu atau di akhir 2012 tepatnya, pertama kalinya saya mendapatkan serangan panik. Di tahun 2013, karena terlalu sering bolak-balik ke dokter akhirnya terdeteksi bahwa ada miom di perut saya. Cukup besar saya ingat ukurannnya kala USG saat itu kurang lebih 7,5 cm x 9,5 cm x 4,5 cm. Tapi memang saat itu saya tidak ada keluhan selayaknya penderita miom, haid lancar tanpa sakit dan tidak banyak, bahkan sejak mengalami serangan panik ini saya merasa haid saya lebih sedikit dari biasanya. Hanya perut yang kembung dan jantung berdebar-debar, tapi ini karena serangan panik bukan miom. Saat itu saya tidak mengambil tindakan apapun, karena memang saya takut operasi dan dokter bilang ini masih bisa di toleransi. Biasanya kalau bisa hamil setelah nikah bisa diambil beserta anak pas lahiran, tapi setahun nikah tidak bisa hamil pertimbangkanlah untuk diambil miomnya, begitu saran dokter kala itu. Saya kemudian hanya memutuskan untuk mengendalikan serangan panik saya saat itu.

Memang setelah pemeriksaan USG tersebut, perlahan serangan panik saya itu tidak kambuh dan saya sangat yakin kala itu saya telah sembuh. Namun diawal 2015, serangan panik itu kembali datang. Dan saya rasakan malah tambah parah. Jantung berdebar ditambah mual yang amat sangat, pusing dan pandangan kabur. Saat itu saya pikir mungkin sudah saatnya saya ganti kaca mata. Jadi gantilah kaca mata, tapi tetap saja. Mual saya pikir maag, mylanta menjadi obat yang sering saya konsumsi setiap kali kembung dan mual. Sampai akhirnya saya tidak tahan karena perut tidak nyaman dan tangan kaki mudah dingin biarpun di ruangan yang tidak dingin. Dokter pikir masalah saya tetap serangan panik karena memang keluhan saya cuma jantung berdebar dan mual. Dokter memeriksa jantung saya, leher saya (sepertinya takut saya ada gangguan tiroid0 dan terakhir ketika melihat perut saya, dia kaget. Ini besar miom ya, seperti yang terakhir kita periksa. Ini jauh lebih besar dari yang terakhir loh, kamu masih takut operasi. Ya, saya masih takut dokter. Terus saya bertanya, saya suka kembung dan mual ini ngaruh dari situ ya dokter. Iya, dikasih obat apapun gak bisa ini. Ya sudah akhirnya seperti biasa, untuk mengatasi serangan panik saya diberi Neurobion (tapi kali ini yang putih, biasanya yang merah) dan alganax. Setelah itu disarankan untuk tidak stres lagi. Tapi ada sesuatu yang membuat saya khawatir, sejak diawal tahun bila kecapekan atau banyak pikiran, dalam sebulan saya bisa haid 2x, dan haid yang kedua diluar siklus bukan flek tapi seperti orang haid hari kedua.

Pertengahan Oktober 2015, pas saya harus pergi liburan, perut sebelah kanan saya sakit sekali dan memang saya baru berhenti siklus haid. Saya takut itu usus buntu, tapi karena dibantu makan baikan kembali saya pikir itu maag. Oh ya, sepanjang perjalanan saya mengalami mual dan kembung sehingga tidak nafsu makan. Akhirnya di taksi, saya mengalami vertigo. Dari semuanya ini asumsi saya tetap pada serangan panik dan maag.

Satu bulan kemudian, tepatnya pertengahan November 2015, dan saat dimulainya siklus haid saya, sakit itu kembali datang dan kali ini tambah sakit. Saya sempat curhat dengan rekan kerja, kok kali ini datang bulannya sakit sekali ya. Ah kamu lebay deh, datang bulan memang sakit kan kalau hari-hari pertama, begitu jawab teman saya. Tapi ini lain dan sakitnya persis disisi kanan perut saya. Malamnya kembali saya ke dokter langganan saya. Awalnya pas saya ceritakan sakitnya, dokter menduga kantung kemih saya bermasalah. Kencingnya berdarah gak? Tidak dokter. Ok kita periksa ya. Wah ini sepertinya miom kamu sudah sangat besar dan menekan organ. Karena dikanan, saya takut kenanya ginjal kanan loh. Sudah diangkat saja ya, kamu jangan takut lagi. Kasihan ginjalnya nanti, bisa rusak loh. Saya diam, tidak tahu harus gimana lagi. Dokter membuat surat pengantar untuk ke dokter spesialis kandungan. Akhirnya harus operasi juga.

Dan akhirnya saya menjalani operasi... Dan disinilah saya sekarang...sudah baikan, tapi juga masih dalam masa pemulihan. Sekarang saya berusaha untuk cepat pulih dan bisa mengendalikan serangan panik saya. Melalui pengalaman saya ini, saya berharap semua yang kebetulan membaca post saya ini bisa mendapatkan manfaatnya. Sekalian dalam post ini saya ingin mengucapkan terima kasih untuk semua dokter dan teman-teman yang mendukung saya selama saya sakit.

Terima kasih, terima kasih, terima kasih untuk dr. Sandrawati, saya selalu memusingkan dokter karena bolak-balik periksa ternyata saya cuma serangan panik saja :P, dokter juga yang pertama kali menemukan benjolan dan pada akhirnya melakukan pemeriksaan lebih lanjut dengan USG. Berkat ketelitian dokter, ketahuan akhirnya saya ada miom :)

Terima kasih, terima kasih, terima kasih untuk semua dokter di puskesmas dekat kantor (saya lupa nama-namanya), yang tidak pernah marah dan menenangkan karena saya sering bolak-balik selama jam kantor saat serangan panik datang.

Terima kasih, terima kasih, terima kasih untuk dr. Yusfa di RSIA YPK Mandiri. Terima kasih banyak sudah mengangkat miom saya yang super besar (hehehe) dan juga kista (ternyata ada kista dan menurut saya kista ini yang menyebabkan sakit di perut). Dan atas kesabaran dokter menjawab pertanyaan-pertanyaan saya :) (maklum saya orangnya panikan dokter).

Terima kasih, terima kasih, terima kasih untuk semua teman dan rekan kerja yang perhatian selama saya sakit. Love you all. Have all of you as friends are blessing for me ^^

Terima kasih, terima kasih, terima kasih untuk mas Erik Wibowo, untuk blog dan buku menyembuhkan anxiety dan panic attack nya. Saya sedang praktekan satu-satu mas trik nya dan saya yakin pasti saya bisa sembuh.

Dan tentunya terima kasih, terima kasih, terima kasih untuk semua pembaca blog saya. Terima kasih banyak sudah mampir. Semoga blog ini berguna ya (soalnya kebanyakan yang saya post kayaknya lebih ke curhat ya, hahaha).

Saya yakin saya bisa sembuh. Saya pasti bisa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar